Menu

Sejarah Singkat Masjid Raya Bandung

Di bulan suci Ramadhan, umat Muslim tentunya berbondong-bondong mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Salah satunya adalah dengan menjalankan ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah, seperti membaca Al Quran, shalat berjamaah, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Oleh karenanya, sudah menjadi suatu tradisi pada bulan Ramadhan, masjid-masjid selalu dipenuhi oleh jamaah yang menjalankan ibadah. Begitupun di Kota Bandung. Salah satu masjid yang kerap dipenuhi oleh jamaah adalah Masjid Raya Bandung.

Masjid Raya Bandung berlokasi di kawasan Alun-alun Bandung. Dengan ukuran yang cukup luas, masjid ini dapat menampung hingga sekitar 14.000 jemaah. Sebagai masjid terbesar yang berdiri megah di Kota Bandung, masjid ini memiliki sejarah yang berharga. Bagaimana sejarahnya? Yuk, kita simak!

Tahun 1810: Masjid Raya Bandung, awalnya bernama Masjid Agung Bandung, dibangun bersamaan dengan pindahnya pusat kota Bandung. Saat ini masjid ini berbentuk bangunan panggung sederhana yang bertiang kayu dan berdinding anyaman bambu.

Tahun 1826: masjid direnovasi (dindingnya diganti menjadi kayu) menyusul kebakaran yang terjadi di daerah Alun-alun pada tahun 1825.

Tahun 1850: Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia-Afrika) dibangun, masjid diperluas dan direnovasi (atapnya diganti dengan genteng berbentuk limas bersusun tiga dan dindingnya diganti dengan batu bata).

Tahun 1852: masjid diabadikan dalam lukisan oleh W. Spreat, pelukis Inggris

Tahun 1875: ditambahkan pondasi dan pagar mengelilingi masjid.

Tahun 1900: dibangun mihrab dan teras di sisi kiri dan kanan untuk memfasilitasi kegiatan di masjid yang semakin banyak.

Tahun 1930: dibangun pendopo dan menara di sisi kiri dan kanan

Tahun 1950-an: menjelang Konferensi Asia Afrika (KAA), masjid direnovasi besar-besaran dengan mengganti kubah masjid yang awalnya berbentuk limas bersusun menjadi kubah berbentuk bawang rancangan Ir. Soekarno.

Tahun 1955: masjid ini menjadi tempat shalat peserta KAA yang menginap di Hotel Homann.

Tahun 1970: kubah berbentuk bawang dibongkar dan diganti.

Tahun 1973: masjid diperluas dan dibuat bertingkat, dibangun basement untuk tempat wudhu, dan menara dibangun kembali.

Tahun 2001: penataan ulang masjid bersamaan dengan penataan kawasan Alun-alun.

Tahun 2003: masjid diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H.R. Nuriana.

Tahun 2014: Halaman masjid Raya Bandung yang juga alun-alun Bandung ditata menjadi lebih modern dengan menggunakan rumput sintetis.

Masjid Raya Bandung ini memang lebih akrab di kalangan warga sebagai Masjid Agung. Selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah, banyak masyarakat yang memanfaatkan masjid ini sebagai ruang publik, terutama di lantai lapangannya yang baru saja diganti dengan rumput sintetis dan di menaranya untuk melihat panorama Kota Bandung. Kemegahan masjid ini menambah potret keindahan di langit Kota Bandung dan menjadi kebanggaan warganya.


(Annisa Mutiara/IR/dari berbagai sumber)

Leave a reply

Your email address will not be published.